Anda coba bayangkan ketika mereka kampanye di depan anda. Ratusan calon. Dan hampir semuanya tidak anda kenal dengan baik. Siapa yang akan anda pilih?
Tak sedikit pemilih yang akhirnya pragmatis. Sama-sama tidak kenal, pilih yang kasih uang paling besar. Selama ini, itulah yang banyak terjadi di desa-desa, dan daerah pinggir perkotaan.
Pragmatis! Karena sistem mendorong pemilih untuk bersikap pragmatis. Apalagi, hukum tak pernah hadir disitu.
Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk penghitungan. Bisa sehari semalam. Bahkan sampai pagi. Disini, para saksi juga akan mengalami kelelahan. Apalagi Panwas dan petugas KPPS.
Idealnya, ada tiga kali pemilu: pilkada, pileg dan pilpres. Masing-masing diselenggarakan secara terpisah. Pemilih bisa fokus pada pilihannya. Pengawasan juga bisa dilakukan dengan baik.
Masyarakat, lembaga-lembaga Independen dan pers bisa jadi alat kontrol untuk menjaga kualitas pemilu. KPPS, Panwas dan para saksi tidak harus menanggung risiko fisik karena faktor kelelahan atau lainnya.
Tapi, entah apa yang menjadi pertimbangan partai-partai tersebut sehingga pemilu diusulkan serentak. Jangan sampai hasrat politik mengalahkan kepentingan bangsa, termasuk untuk keselamatan petugas KPPS, Panwas dan para saksi. Terutama “yang paling penting” untuk menjaga kualitas hasil pemilu.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






