Jakarta, Lintasbogor.com || Di Riyadh, tubuh Baharuddin Lopa mulai memberi tanda. Batuk beberapa kali. Langkahnya melambat. Tubuhnya terlihat semakin kurus.
Tetapi ia tetap berjalan seperti biasa.
Saat itu Lopa bukan orang yang sedang menjalani kehidupan biasa. Ia adalah Jaksa Agung. Sebelumnya, ia pernah menjadi Jaksa Tinggi, hakim, dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi.
Ia lahir di Pambusuang, Sulawesi Barat,
27 Agustus 1935.
Baca Juga:
Polri Tegaskan Pemilik Sertifikat Pramuka Garuda Tetap Wajib Ikut Tes Seleksi
Pramono Anung Siapkan Kado HUT ke-81 RI: Seluruh Transportasi DKI Bertarif Rp1 Pada 17 Agustus 2026
Sejak muda, hidupnya dekat dengan dunia hukum. Ia belajar ilmu hukum dan kemudian memilih menjadi jaksa.
Pekerjaannya membawanya berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Ia pernah menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi
di beberapa wilayah. Di setiap tempat, namanya semakin dikenal karena sikapnya yang keras terhadap korupsi.
Ia tidak hanya berbicara tentang hukum.
Ia juga dikenal menjalani kehidupan sederhana. Ketika akhirnya dipercaya menjadi Jaksa Agung pada 2001, usianya sudah 65 tahun. Jabatan itu datang ketika tenaganya tidak lagi seperti dulu.
Tetapi pekerjaannya justru semakin berat.
Ia membuka kembali sejumlah perkara besar yang sebelumnya berjalan lambat. Beberapa pejabat dan pengusaha mulai diperiksa. Nama-nama besar kembali masuk ke ruang penyidikan.
Lopa tidak terlihat seperti orang yang ingin memperpanjang masa jabatan. Ia seperti sedang mengejar sesuatu sebelum waktunya habis.
Di Riyadh, kondisi tubuhnya semakin menurun. Ia beberapa kali terlihat batuk saat berjalan. Wajahnya tampak pucat.
Baca Juga:
Menko Pangan Dorong Teknologi Pirolisis Lengkapi PSEL Untuk Percepat Penanganan Sampah Nasional
Menaker Yassierli Dorong Transformasi Balai K3 Jadi Garda Terdepan Pencegahan Kecelakaan Kerja
Tetapi jadwal tetap berjalan. Ia masih menerima tamu. Masih membahas pekerjaan. Masih berbicara tentang persoalan hukum Indonesia.
Orang-orang di sekitarnya mengetahui kesehatannya memang sedang bermasalah. Tetapi tidak ada yang menyangka
waktunya tinggal hitungan hari.
Malam 3 Juli 2001, keadaan berubah. Lopa jatuh sakit di hotel tempat ia menginap di Riyadh. Orang-orang di sekitarnya mulai panik. Telepon digunakan bergantian.
Kabar segera bergerak dari Riyadh menuju Indonesia. Tidak lama kemudian, berita itu datang. Baharuddin Lopa meninggal dunia. Usianya 65 tahun.
Baca Juga:
Perkuat Sinergi dengan PERS, Kapolres Tapsel AKBP Anton Santoso Buka Ruang Kritik dan Kolaborasi
RAPI Kota Bogor Bankom Kirab Merah Putih dari Bogor untuk Indonesia
Orang yang beberapa hari sebelumnya masih menjalankan tugas sebagai Jaksa Agung, tiba-tiba tidak akan kembali ke Indonesia. Kabar itu sulit diterima banyak orang. Sebab Lopa baru beberapa bulan menjabat sebagai Jaksa Agung.
Ia baru saja membuka kembali sejumlah perkara besar. Ia juga sedang berhadapan dengan persoalan korupsi yang melibatkan orang-orang berpengaruh.
Kepergiannya kemudian diselimuti berbagai rumor. Ada yang menduga ia diracun. Ada yang mengaitkan kematiannya dengan perkara-perkara besar yang sedang ditangani.
Tetapi dugaan itu tidak pernah terbukti.
Penjelasan resmi menyebut Lopa meninggal karena gangguan kesehatan. Di tengah semua rumor itu, satu kenyataan tetap tidak berubah. Baharuddin Lopa berangkat ke Riyadh sebagai pejabat negara. Ia tidak pernah pulang sebagai pejabat itu lagi.
Ia dimakamkan di Indonesia. Jabatannya berhenti di Riyadh.
Perkaranya tidak…….????






