APAKABAR BOGOR – Pandemi Covid 19 berdampak kepada semua sektor. Tidak terkecuali sektor pendidikan. Toko perlengkapan sekolah membuat omzet penjualan mereka menurun drastis. Hal itu akibat ketidakpastian kapan belajar di sekolah kembali diberlakukan.
Dalam keadaan normal, penjualan seharusnya melonjak Juni dan juli ini, mengikuti momen tahun ajaran baru. Salah satu Toko Buku H. Abas yang terletak di Pasar Raya Parung, Kecamatan Parung megalami penuruna sampai 60-70 persen.
“Tak hanya buku paket dan buku tulis saja. Hampir seluruh jenis peralatan sekolah alami penurunan penjualan. Bahkan menjalar ke barang-barang peralatan kantor,” ujar Iwan penjaga toko kepada apakabarbogor.com. Senin (28/06).
Sebelum Korona masih kata Iwan, dalam sebulan bisa terjual 30 dus berisi 20-32 pack buku tulis. Jumlah tersebut bisa meningkat tiga kali lipat saat momen tahun ajaran baru. Kini pihaknya baru bisa menjual lima box saja.
Baca Juga:
KUNJUNGAN BPUN KEC. CISARUA KE SANGKURIANG 2 FARM – KEC. MEGAMENDUNG
Ruby Falahadi Law Office & Partner: Persatuan dan Supremasi Hukum sebagai Fondasi Indonesia Maju
”Dulu satu box saja bisa laku dalam setengah hari. Sekarang satu box butuh waktu sebulan untuk menjualnya,” keluhnya.
Hal ini juga berpengaruh pada jumlah kunjungan. Kondisi toko yang lengang berbanding terbalik dengan kondisi tahun-tahun sebelumya. Pengunjung membludak hingga akses jalan mulai dari pintu masuk hingga kasir pun terbatas. Kini jumlah pengunjung harian bisa dihitung jari.
Dikatakan, kenaikan penjualan justru terjadi pada buku-buku novel dan Alquran. Dalam sehari 2-3 buah Alquran terjual. Untuk novel, sebagian besar dibeli oleh kalangan muda.
Kini pihaknya memberikan diskon 25 persen untuk kedua komoditas tersebut demi semakin mendongkrak penjualan. ”Mungkin karena kesibukan berkurang sehingga diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti membaca Alquran atau novel,” ujarnya.
Kegiatan belajar dari rumah membuat sejumlah pedagang seragam di Pasar Parung beralih untuk menjual produl lain seperti sepatu dan sendal. Tren berolahraga dan bersepeda saat pandemi yang meningkat, menjadi peluang baru.
”Yang jualan seragam menipis. Karena tidak ada yang beli. Kalau sepatu kan biasa dipakai saat berolahraga,” kata Saevul, salah satu pedagang seragam lainya.
Ia bisa menjual 5-6 pasang sepatu dalam sehari. Sedangkan penurunan omzet seragam hingga 90 persen. Meski demikian ia tetap memajang beberapa seragam dengan diskon besar-besaran. Sekaligus untuk menghabiskan stok yang sudah terlanjur dibeli.
”Dipajang saja. Berharap ada pembeli yang mau menyicil dari sekarang untuk dipakai saat sekolah nantinya,” pungkasnya. (Diyon/Haidy)
Baca Juga:
PWRI Bogor Raya Audiensi ke RSUD Leuwiliang, Dorong Keterbukaan dan Peningkatan Pelayanan Publik
NPL GROSS 7,65%, KPP BOGOR RAYA DESAK WALI KOTA BOGOR BATALKAN KETUA DEWAN PENGAWAS BANK KOTA BOGOR
APAKABAR MEDIA NETWORK mengajak putra daerah yang berminat di bidang jurnalistik, untuk bersama-sama mengelola media kawasan di tingkat Desa/Kelurahan atau Kecamatan dengan tampilan seperti media ini, contohnya Apakabarciampea.com. Hubungi, whatsApp kami: 0855-7777888.





