“Pak Jokowi menghitung kapasitas per harinya berapa karena kan ingin cepat. Tadi kita laporkan satu hari bisa 20-40 per titik. Nah, nanti di lihat lagi dihitung lagi apakah kapasitasnya ditambah, personilnya dan lain-lain. Tapi pak Jokowi sangat fokus pada protokol kesehatan, intinya itu. Beliau juga memastikan adanya cold chain untuk menyimpan vaksin itu,” jelas Bima.
Bima Arya mengaku belum mendapatkan arahan pasti mengenai waktu pelaksanaan vaksinasi.
“Diperkirakan kalau yang disampaikan pak Jokowi tadi kalau tidak akhir tahun, ya awal tahun lah. Pertama memastikan barangnya datang dulu kata Pak Menteri Kesehatan barang datang Desember. Tapi kan ada proses macam-macam dari BPOM juga harus ada Emergency Use Authorization (EUA) itu mungkin sampai awal tahun,” bebernya.
Sementara itu, Menkes Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa dalam pelaksanaan simulasi ini turut dipantau oleh WHO untuk melihat apa saja yang mesti jadi evaluasi ketika vaksin itu sudah benar-benar hadir di tanah Air.
“Selain Pak Wali Kota juga ada dari WHO ikut memantau supaya originalitas kita di dalam melakukan simulasi itu sesuai fakta apa yang akan kita lakukan. Dan itu menjadi sorotan dunia karena apa yang kita lakukan adalah faktanya ini. Kita terus menyiapkan diri dan terus menerus dilatih”.
“Supaya nanti kalau vaksin itu ada sudah ada, kita tinggal melaksanakan. Supaya tidak kagok, tidak gagap dan kita lakukan latihan terus dan kami berkoordinasi terus dengan segala elemen baik dengan wakil rakyat dengan pemerintah daerah tapi tidak lupa juga dengan WHO kami berkonsultasi,” jelas Terawan.
Terkait vaksin mana yang akan dipakai, Terawan menjawab bahwa vaksin yang dipakai harus ada di daftar yang direkomendasikan oleh WHO.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






