Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.
Dalam sebuah hadist (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138) diriwayatkan agar kita untuk meninggalkan debat, meskipun kita pada posisi yang benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).
Selain itu, Perdebatan di Dunia maya pada dasarnya hanya membuang energi dan menyianyiakan waktu dan cukup sulit untuk mencapai tujuan,yaitu untuk mencari kebenaran.yang sering kita jumpai justru pembenaran.
Dalam debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






