Tantangan Internet untuk perubahan pendidikan

by -211 views

Oleh: Tri Hidayati, M.Pd
Dosen Prodi Teknik Informatika
Universitas Pamulang

“Education has evolved beyond the four
walls of a classroom, it has become a compulsory phenomena of constant acquisition of knowledge geared towards solving immediate problems and this was possible because education transformed itself to becoming accessible even in your bedroom.”
-Victor Vote

Perubahan cara penyimpanan pengetahuan akan mengubah cara pembelajaran. Semenjak bangsa mesir menemukan tulisan lebih dari 3000 tahun yang lalau, cara untuk belajar dan menyebarkan keilmuan telah berubah. Begitu juga ketika mesin cetak Guttenberg beroperasi. Buku-buku bisa tersedia bagi warga bisa dan ilmu pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh segelintir kelompok saja. Ketika teknologi komunikasi berkembang pesat dan data bisa ditransfer dengan kecepatan cahaya melalui serat optik, lalu apa yang berubah dalam sistem pendidikan kita?

Penyimpanan pengetahuan di masa lalu
Dengan adanya media baru untuk menyimpan maka akan terjadi perubahan cara dalam belajar. Ketika tulisan ditemukan oleh bangsa Mesir kuno, mereka bisa mengembangkan daya pikir yang lebih jauh dan tidak lagi mengandalkan ingatan untuk menyimpan pengetahuan. Perubahan juga terjadi ketika media tulis berganti dari batu ke kertas. Ketika batu digunakan sebagai media, maka hanya hal-hal penting dan fenomenal saja yang layak untuk diukirkan. Namun ketika beralih ke kertas, berbagai pengetahuan bisa disimpan untuk dipelajari oleh masyarakat luas.

Setiap media tulis memiliki keunggulan masing-masing. Saat ini kita bisa menyaksikan betapa tingginya peradaban Mesir Kuno dari batu Rosetta atau sangat berwibawannya raja Hammurabi dengan titah yang ditulis di tugu prasasti. Batu memberikan durabilitas dan kemegahan, namun tidak dengan mobilitas.
Pada abad pertama masehi Ts’ai lun menemukan cara membuat kertas. Media ini dengan cepat menjadi populer dan diadopsi di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa. Dengan segera, kertas yang lebih murah dan ringan telah menggantikan papyrus, tanah liat, batu dan kulit domba sebagai media tulis.

Melalui kertas, ilmu pengetahuan semakin mudah untuk disebarluaskan. Dengan semakin populernya kertas, membuat pusat-pusat pendidikan tidak akan lengkap tanpa kehadiran koleksi buku dan kitab. Sistem pembelajaran yang sangat berpusat pada guru dan sistem hafalan dan oral bergeser dengan dualisme pengetahuan yang tidak terpisahkan: buku dan guru. Berbagai pusat ilmu pengetahuan di zaman itu semakin menekankan penguasaan baca-tulis. Hingga saat ini, kemampuan baca-tulis menjadi salah satu penanda intelektualitas.

Mesin cetak Guttenberg dan berseminya pengetahuan di Eropa
Salah satu moto dalam kebangkitan ilmu pengetahuan di Eropa adalah “sapere aude” atau berani berpikir sendiri. Keberanian untuk berpikir sendiri tidak bisa dilakukan jika sumber-sumber pengetahuan masih dibatasi dan disimpan oleh segelintir orang. Oleh karena itu, semangat untuk berpikir dan menemukan pengetahuan pada masa itu didorong oleh semakin luasnya akses buku. Penemuan mesin cetak Guttenberg telah merevolusi moda produksi buku.

Mesin cetak juga mengubah bentuk tulisan. Alfabet latin yang kita gunakan sebelumnya ditulis dengan model tegak bersambung. Namun tulisan bersambung yang ada saat itu menyulitkan dalam sistem mesin cetak. Mesin cetak membuat cetakan huruf-huruf secara terpisah dan sulit membuat cetakan huruf yang bersambung. Oleh karena itu, sistem tulisan beradaptasi agar sesuai dengan teknologi yang ada. Guttenberg menggunakan timah untuk mencetak huruf-huruf secara terpisah. Hasil dari mesin cetak Guttenberg ini adalah munculnya model tulisan tegak tidak bersambung yang umum kita gunakan sekarang.

Sebelumnya setiap salinan buku ditulis dengan tulisan tangan dengan ketelitian yang tinggi dan memakan waktu lama. Dengan adanya mesin cetak, buku-buku bisa diproduksi secara cepat, massal dan biaya yang jauh lebih murah. Buku yang dulunya hanya dimiliki oleh kaum biarawan dan bangsawan, kini telah tersedia di rak-rak masyarakat bi